
Tinjau Arus Balik di Pelabuhan Merak, Bambang Haryo Soroti Keterbatasan Dermaga
Bralinknews.com – CILEGON – Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono (BHS), melakukan kunjungan kerja ke kantor ASDP Indonesia Ferry Cabang Utama Merak pada Selasa (31/3). Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung kondisi arus balik Lebaran serta memastikan kelancaran layanan penyeberangan antara Pulau Jawa dan Sumatera.
Usai bertemu dengan General Manager ASDP Cabang Utama Merak, Umar Imran Batubara, Bambang mengapresiasi kelancaran arus dari Jawa menuju Sumatera. Namun, ia memberikan catatan kritis terkait pelayanan arus balik dari Pelabuhan Bakauheni (Sumatera) yang mengalami volume kepadatan lebih tinggi.
Kapasitas Kapal vs Ketersediaan Dermaga
Persoalan utama yang disoroti Bambang adalah antrean kapal yang hendak bersandar. Ia mengungkapkan bahwa dari total 72 kapal yang tersedia, hanya sekitar 28 kapal yang dapat dioperasikan secara reguler. Hal ini terjadi akibat keterbatasan dermaga yang saat ini hanya berjumlah tujuh unit.
“Idealnya, satu dermaga bisa melayani hingga empat kapal. Dengan kondisi saat ini, lebih dari 60 persen kapal tidak dapat beroperasi maksimal, terutama saat terjadi lonjakan penumpang,” ujar Bambang.
Desak Penambahan Dermaga Permanen
Sebagai solusi jangka panjang, Bambang mendesak pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat dan Laut untuk segera menambah dermaga di Merak dan Bakauheni. Mengingat tren kenaikan penumpang mencapai 8-10 persen per tahun, penambahan dua pasang dermaga dinilai mampu meningkatkan kapasitas operasional hingga 35 persen.
“Penambahan dermaga sangat krusial untuk mengantisipasi lonjakan pemudik di masa depan, apalagi dengan tersambungnya akses jalan tol yang akan terus meningkatkan minat masyarakat melakukan perjalanan darat,” tambahnya.
Logistik Tidak Boleh Dikorbankan
Selain infrastruktur, Bambang mengingatkan agar angkutan logistik tidak dianaktirikan setiap musim mudik. Ia berharap truk logistik tidak lagi tertahan lama di rest area atau bahu jalan.
“Kelancaran logistik sangat vital. Jika distribusi terganggu, dampaknya akan merembet ke sektor industri, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga memicu inflasi yang menurunkan daya beli masyarakat,” tegasnya.
Faktor Keselamatan
Terakhir, Bambang menyoroti penggunaan dermaga darurat yang dinilai tidak memenuhi standar keselamatan karena lokasinya berdekatan dengan aktivitas bongkar muat komoditas berat seperti batu bara dan bijih besi. Ia mendesak agar pembangunan dermaga reguler yang aman dan nyaman segera direalisasikan tanpa penundaan lebih lanjut.
