CILEGON, Bralinknews.com – Edukasi kesehatan mengenai overthinking tak sebabkan GERD secara langsung melainkan dapat memperparah gejalanya, disampaikan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Hospital Cilegon, dr. Fachrial Imam, Sp.PD. Kegiatan interaktif ini digelar di Kiri Coffee, Cilegon, pada Selasa (30/6/2026
Dalam pemaparannya, dr. Fachrial Imam menjelaskan secara mendalam mengenai korelasi antara gangguan psikologis dan pencernaan. Ia menegaskan bahwa kebiasaan overthinking tak sebabkan GERD secara langsung atau tidak memicu kerusakan fisik pada lambung secara instan. Namun, kondisi stres dan kecemasan yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem saraf serta hormon tubuh, yang pada akhirnya berdampak buruk bagi fungsi saluran pencernaan.
“Ketika seseorang mengalami stres atau kecemasan berlebih, tubuh akan menghasilkan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Peningkatan hormon ini dapat memengaruhi produksi asam lambung, memperlambat proses pencernaan, serta meningkatkan sensitivitas saluran cerna terhadap rasa nyeri dan ketidaknyamanan,” ujar dr. Fachrial Imam saat memberikan keterangan pada Selasa (30/6/2026).
Gejala GERD yang Perlu Diwaspadai.
Lebih lanjut, dr. Fachrial mengingatkan masyarakat untuk mengenali berbagai tanda dan gejala GERD agar dapat melakukan tindakan pencegahan sejak dini. Beberapa gejala umum yang sering dialami oleh penderita meliputi:
Sensasi terbakar pada dada atau ulu hati (heartburn)
. Rasa asam atau pahit di area tenggorokan
. Sering bersendawa dan perut terasa kembung
. Mual, terutama setelah mengonsumsi makanan
. Batuk kronis yang memburuk pada malam hari
. Suara berubah menjadi serak
. Rasa mengganjal pada tenggorokan
Ia juga menambahkan bahwa individu yang sering mengalami overthinking cenderung mengalami perubahan pola hidup yang tidak sehat. Kebiasaan seperti jam makan yang tidak teratur, kurang tidur, konsumsi kopi berlebihan, serta pemilihan makanan yang kurang sehat kerap menjadi pemicu utama (faktor pencetus) kambuhnya gejala GERD.
“Faktor utamanya adalah pola hidup yang tidak sehat, pola makan yang tidak teratur, serta distres atau kecemasan berlebih yang dapat memicu peningkatan produksi asam lambung,” jelasnya.
Langkah Penanganan dan Pengaturan Pola Makan
Untuk meminimalkan risiko kekambuhan, terdapat beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh penderita GERD, mulai dari terapi pengobatan hingga pengaturan pola makan yang tepat. Penderita disarankan untuk mengonsumsi makanan yang ramah lambung, antara lain:
1. Karbohidrat Kompleks: Oatmeal, nasi merah, dan roti gandum.
2. Protein Rendah Lemak: Dada ayam, ikan, tahu, dan tempe.
3. Sayuran Non-Asam: Brokoli, wortel, buncis, bayam, labu, dan mentimun.
4. Buah-Buahan Rendah Asam: Pisang, melon, pepaya, semangka, dan pir.
Sebaliknya, masyarakat diimbau untuk membatasi konsumsi makanan dan minuman yang berpotensi memicu gejala, seperti makanan pedas, makanan tinggi lemak, gorengan, cokelat, kopi, minuman beralkohol, serta minuman bersoda.
Di samping menjaga asupan nutrisi, dr. Fachrial menyarankan beberapa aktivitas fisik dan mental untuk membantu mengurangi intensitas overthinking sekaligus menjaga kesehatan lambung. Aktivitas tersebut meliputi jalan santai, latihan pernapasan, olahraga intensitas ringan hingga sedang, menulis jurnal harian (journaling), menjaga kualitas tidur, dan membatasi paparan media sosial secara berlebihan.
Sebagai penutup, ia mengimbau penderita GERD untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis profesional di fasilitas kesehatan terdekat guna mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat, serta menekankan pentingnya manajemen stres.
“Kepada masyarakat yang mengidap GERD, saya menganjurkan untuk segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat, baik puskesmas maupun rumah sakit, agar mendapatkan penanganan yang tepat. Selain itu, penting untuk mengelola stres karena dapat memperparah gejala gastroesophageal reflux disease,” pungkas dr. Fachrial Imam.
Selain langkah-langkah di atas, dr. Fachrial juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam menerapkan kebiasaan baik setiap hari. Menjaga kesehatan pencernaan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan sinergi antara pengelolaan kesehatan mental dan kedisiplinan dalam menjaga asupan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Dukungan dari lingkungan keluarga terdekat juga sangat membantu penderita dalam mengelola kecemasan sehari-hari.

